Selasa, 06 Mei 2008 | 19:04 WIB
Sebanyak 32 elemen masyarakat, yang menamakan diri Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (AJI DAMAI) melakukan demo. Mereka berjalan dari Terminal Parkir Abu Bakar Ali, hingga Gedung Agung, Jalan Malioboro, Yogyakarta, menolak dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama untuk membubarkan Ahmadiyah di Indonesia.
“Kalau SKB diberlakukan, Indonesia malah mundur ke belakang,” kata Muhammad Subkhi Ridho, Koordinator AJI DAMAI, kepada Tempo, Selasa, (6/5). Alasannya, Ahmadiyah sudah eksis jauh sebelum Indonesia diproklamasikan. “Ahmadiyah salah satu kelompok, yang melahirkan RI. Pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya WR Supratman adalah warga Ahmadiyah,” kata Ridho.
Selain itu, Ridho mengatakan, Amadiyah tidak pernah memakai cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan polemik. Dalam catatannya, pengikut Ahmadiyah di Indonesia yang jumlahnya sekitar dua juta, selalu berperilaku santun dalam mengembangkan gerakannya.
Semula, Ridho dan kawan-kawannya akan menemui Sultan Hamengku Buwono ke X, untuk menceritakan keresahan mereka, menyangkut polemik Ahmadiyah. Terlebih di Yogyakarta, Ahmadiyah memiliki pengikut cukup banyak, sekitar 500 orang. “Karena itu kami mendukung Sri Sultan menciptakan kedamaian bagi masyarakat Yogyakarta,” kata Ridho.
Dalam aksi itu, AJI DAMAI meminta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyelesaikan kasus Ahmadiyah berdasarkan konstiusi negara dan UU HAM. “Pasal 29 jelas mengatakan menjamin kehidupan beragama dan kepercayaan di Indonesia,” ujar Ridho. Mereka juga menyerukan kepada aparat keamanan, menindak tegas para pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti kasus pembakaran mesjid di Mataram, Sukabumi, Tasikmalaya.
Aksi sempat tersendat karena hujan lebat. Selain AJI Damai, angkatan anak muda Ahmadiyah juga turut hadir dalam aksi ini. (bernarda rurit)
Pro-Kontra Pembubaran Ahmadiyah
Pendukung Ahmadiyah Demo di Yogyakarta
7 Mei 2008 – 10:57 WIB
Puluhan orang dari Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (Aji Damai) menggelar aksi damai menolak pembubaran Ahmadiyah, Selasa(6/5). Mereka berjalan kaki dari Taman Abu Bakar Ali hingga Istana Kepresidenan Gedung Agung. Massa juga sempat menggelar orasi di depan gedung DPRD DI Yogyakarta. “Putusan Bakor Pakem diskriminatif. Pembubaran Ahmadiyah jelas-jelas menyalahi konstitusi,” ucap koordinator aksi Subkhi Ridha.
Aji Damai mendesak Presiden Yudhoyono segera menyelesaikan status Ahmadiyah yang kini menggantung. Status itu membuat pengikut Ahmadiyah terus dihantui rasa takut karena menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan. “Kami mengecam aksi kekerasan yang akhir-akhir ini terjadi pada pengikut Ahmadiyah. Kekerasan berkedok agama harus dihentikan. Polisi harus tegas!” ujarnya.
Di tempat lain, 35 kiai Yogyakarta dan tokoh ormas Islam berkumpul menandatangani pernyataan sikap. Mereka mengeluarkan pernyataan sikap mendukung keputusan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) yang melarang kegiatan Ahmadiyah karena dianggap menyimpang.
Para kiai tersebut menilai keputusan Bakor Pakem sudah tepat. Menurut mereka, penistaan terhadap Islam jelas menimbulkan keresahan masyarakat. Islam di Indonesia adalah agama mayoritas, sehingga penistaan terhadap Islam akan menuai gelombang protes yang besar.
Pengurus Gerakan Ahmadiyah Indonesia cabang Yogyakarta mengaku biasa saja menanggapi sikap pro-kontra tersebut. Secara personal Ahmadiyah tidak memiliki masalah dengan umat Islam lainnya. “Kami bisa hidup harmonis selama ini. Soal Mirza Ghulam Ahmad, kami tidak menganggapnya sebagai nabi, tapi hanya mujadid atau pembaru dalam gerakan pemikiran Islam,” ujar S Li Yasir, pengurus Ahmadiyah Yogyakarta. (E1)